AISNU Jawa Tengah

Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) Regional Jawa Tengah adalah Pusat Informasi Digital Santri Terbesar di Jawa Tengah. Part of AIS Nusantara

Tokoh

Pondok Pesantren

#ceritahorordipesantren


Arjuna: Filosofi Lelananging Jagad - Oleh Minardi (LTN NU Kabupaten Klaten)

Pernikahan merupakan salah satu fase yang akan dilewati oleh setiap orang. Beberapa waktu lalu di nDalem Natan Kotagedhe Jogja diadakan pameran lukisan. Lukisan di sana hanya menyajikan lukisan-lukisan bertema pernikahan dari berbagai negara di dunia. Hal ini menyiratkan, bahwa walaupun terjadi perbedaan atas segala identitas namun kita memiliki satu kesamaan, yaitu cinta. Karena sebagian besar pernikahan terjadi karena cinta, dan cinta adalah bahasa yang mudah dipahami oleh semua bangsa.
Bagi masyarakat Jawa sendiri, pernikahan merupakan suatu yang sakral. Bukan sekedar sebagai pelegalan atas kebutuhan batin semata selainkan untuk kemaslahatan bersama. Kita mengenal, sebelum menikah orang Jawa melihat bobot, bibit dan bebet dari calonnya. Agar kita mengenal bagaimana bobot keilmuwan dan watak serta keimanan dari si calon. Lalu mengenal bibit keturunan dari ci calon, bibit di sini bukan sekedar keturunan ningrat atau bukan tetapi lebih kepada keturunan orang baik atau bukan. Terakhir bebet atau penampilan dari si calon ini. Jika dalam Islam, kita mengenal jika menikahi perempuan maka harus dilihat keimanan, keturunan, kecantikan dan hartanya, namun soal harta Budaya Jawa tidak begitu diperlihatkan pengungkapannya.

Jika telah pas bibit, bobot dan bebetnya maka saatnya menghitung nagadina wethonnya. Setelah itu dilanjutkan dengan serangkaian prosesi yang panjang dan bisa dianggap melelahkan. Namun kesemuanya itu sesungguhnya menunjukkan begitu sakral dan pentingnya makna dari pernikahan itu. Menikah umumnya hanya sekali dalam hidup, maka jika salah pilih akan terjadi ketidak-hormonisan atau dalam syair disebutkan “…. Luput pisan keno pisan ….” . Sehingga tidak mengherankan, Jawa merangkai tradisi pernikahan sedemikian rupa untuk cermat dan berhati-hati. Sikap si perempuan akan terlihat saat si laki-laki diajak silaturahim ke rumah calon perempuan, lalu si perempuan menyajikan minum maka gerak-gerik, polah, sikap, mimik wajah, senyuman, dan semua bahasa lisan dan tubuh akan bisa terbaca termasuk juga baju yang dipakai.

Bagi yang jomblo, memang terasa semacam tersiksa jika melihat kawan-kawannya sudah menikah. Seakan tinggal dirinya yang tersisa sendirian di alam raya ini. Maka sesungguhnya masih harus tetap bersyukur karena sisi positif dari jomblo adalah masih leluasanya untuk memperluas jaringan dan memuncakkan prestasi. Arjuna, seorang ksatria Pandawa itu dalam lakon pewayangan Jawa proses pernikahannya bukan karena dia tampan. Tetapi Arjuna dikagumi oleh banyak perempuan karena prestasi yang begitu banyak. Di dalam dirinya terjadi kolaborasi ideal antara sisi ksatria dengan sisi pandhita. Dia memang cakep, tapi dia ahli dalam memanah, pemerintahan, perang dan tata kemasyarakatan yang itu merupakan bagian dari ksatria. Namun, dia juga ahli dalam dunia spiritual, dia tokoh wayang yang paling sering mendapat Karunia dari Tuhan baik berupa senjata maupun Wahyu. Karena dia paling gemar prihatin, mengurangi hawa nafsu, bertapa bahkan dia pernah bergelar Begawan Ciptoning atau Mintaraga, inilah sisi pandhitanya. Maka dari keterpaduan inilah maka banyak yang menyebut dia sebagai Lelananging Jagad.

Nampaknya, harta semata bukanlah syarat utama untuk mencintai. Karena harta jika tidak dikelola dengan baik akan habis, demikian pula dengan paras yang fana itu. Sedangkan keimanan, akhlak dan prestasi sifatnya melekat pada diri dan terus bisa dikembangkan. Mendekat kepada Allah dalam prihatin dan menghasilkan karya dalam prestasi ini nampaknya harus digalakkan oleh generasi muda. Prestasi ini pula yang kelak menjadi jalannya rejeki jika ditekuni dengan baik. Para Pendahulu telah banyak mengajari kita tentang hidup dan makna kehidupan. Menuliskan dan mewariskannya diharapkan untuk menjadi keteladanan bagi generasi yang akan datang.

1 komentar:

  1. Mantapp min, lanjutkan....
    Min, ane mau tanya min, "katanya" sih nih yaa min, katanya org jawa, kalo anak pertama sama anak pertama gak boleh menikah min, nnti akan ada terjadi sesuatu yg kurang baik "katanya", apa ini benar adanya min? apa ndak termasuk tatoyyur ya min,
    pencerahannya min hehe
    Sankyuuu

    BalasHapus

| Designed by Colorlib