AISNU Jawa Tengah

Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) Regional Jawa Tengah adalah Pusat Informasi Digital Santri Terbesar di Jawa Tengah. Part of AIS Nusantara

Tokoh

Pondok Pesantren

#ceritahorordipesantren


64 Tahun silam, sekelompok pemuda Nahdlatul Ulama berkumpul untuk meanggapai impian membentuk suatu ikatan para pelajar dan santri Nahdlatul Ulama. Tholchah Mansyur (Malang), H. Mustahal (Solo), Shofyan Cholil (Yogyakarta), A. Ghoni Farida (Semarang)  bermusyawarah untuk mempersatukan organisasi-organisasi pelajar dan santri dalam satu wadah, satu nama dan satu faham dengan nama IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) saat berlangsung kongres LP Ma’arif di Semarang pada tanggal 24 Februari 1954/20 Jumadil akhir 1373 Hijriyah.

Pada kongres ke VI di Surabaya IPNU menjadi badan otonom NU (Nahdlatul Ulama). Sehingga IPNU Berhak mengatur rumah tangganya sendiri baik ke luar maupun ke dalam, tidak lagi tergantung kepada kebijakan LP Ma’arif.

Pada perkembangan selanjutnya IPNU berubah nama menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama saat kongres ke X di Jombang disebabkan organisasi pelajar yang diakui pemerintah hanya OSIS sebagai organisasi intra sekolah dan Pramuka sebagai organisasi ekstra sekolah. Sehingga ladang garap IPNU tidak hanya pelajar dan santri saja, tetapi juga pemuda, remaja dan mahasiswa.

Di dalam kongres XIV tanggal 18 – 24 Juni 2003 di Surabaya IPNU sepakat untuk kembali ke habitatnya semula dengan berganti nama menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dengan orientasi pelajar, santri dan mahasiswa.

Lahirnya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan wadah pengkaderan bagi generasi muda NU yang bersumber dari kalangan pesantren dan pendidikan umum, yang diharapkan dapat berkiprah di berbagai bidang, baik politik (kebangsaan), birokrasi, maupun bidang-bidang profesi lainnya. Pada awalnya embrio organisasi ini adalah berbagai organisasi atau asosiasi pelajar dan santri NU yang masih bersifat lokal dan parsial.

Dari situlah, kader IPNU Zaman Now, haruslah mampu meneruskan cita-cita pendiri IPNU dan NU, dengan membaur dengan masyarakat untuk merealisasikan masyarakat yang adil dan makmur seperti yang tertuang dalam teks lirik mars IPNU.

Wajah IPNU sekarang adalah wajah NU dimasa mendatang, itulah yang sering didawuhkan oleh bapak kita yang ada di pengurus NU, sehingga sebagai penerusnya kita tidak boleh melupakan perjuangan beliau-beliau pada zaman dahulu.

Kemudahan akses informasi sekarang, harusnya menjadikan khidmad kita didalam organisasi lebih mantap, inovatif, kreatif dan tentunya istiqomah. Militansi kader zaman now harusnya lebih besar dari para pendahulu karena fasilitas dan tantangan yang ada didepan kita, terlebih pelajar dan pemuda sekarang memiliki ancaman radikalisasi dan bahaya-bahaya lainnya seperti merosotnya moral pemuda baik karena pornografi, narkoba ataupun kenakalan remaja yang lain.

Kini IPNU sudah menginjakkan usianya yang ke 64 Tahun, usia yang matang sebagai organisasi kepelajaran. Tentunya menuntut para kader IPNU untuk lebih aktif dan kreatif dalam mensikapi keadaan Zaman now. IPNU menjadi cikal para intelektual muda masa kini yang akan menjadi penerus bangsa ini.

Diusianya yang ke 64 ini marilah bersama-sama belajar, berjuang dan terus bertaqwa untuk mewujudkan Indonesia yang madani.

Jayalah IPNU, Jayalah Indonesia.

IPNU di Hati, NU sampai Mati.

IPNU juga Santri 
Santri Jateng Santri gayeng

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib