Wonobodro merupakan salah satu nama
desa di daerah Blado Kabupaten Batang Jawa Tengah. Terletak di dataran tinggi
yang mempunyai udara sejuk dan juga pemandangan yang indah juga memanjakan
mata. Namun, bukan itu yang menjadi daya tarik utama dari desa ini. Karena daya
tarik utama dari desa ini adalah adalah makam para Auliya, yakni diantaranya
Syekh Maulana Maghribi dan Ki Ageng Pekalongan.
Para
peziarah berkeyakinan bahwa berdoa dengan bertawasul dengan Syeikh di kompleks
makam dapat mengabulkan keinginan-keinginan kita. Dan hal inilah salah satu
karomah yang banyak diyakini bahkan diakui oleh penduduk setempat serta para
peziarah. Penduduk setempat sudah banyak sekali yang merasakan langsung karomah
dari Syeikh Maulana Maghribi, contoh kecilnya saja seperti para penduduk yang
berjualan disekitar kompleks makam. Dengan adanya makan ini, maka banyak
pengunjung dari daerah manapun, dan hal ini merupakan peluang usaha bagi
penduduk setempat untuk membuka warung-warung kecil.
Komplek
makam Wonobodro memang tiap harinya selalu ada yang berziarah. Peziarah ini
bukan hanya dari sekitar Batang, Pekalongan atau Jawa Tengah saja. Namun dari
berbagai daerah dan luar kota pun banyak yang berziarah ke komplek makam
keramat ini, bahkan diceritakan dahulu Presiden Soekarno pun sempat berziarah
ke komplek makam yang berada di bukit ini.
Namun,
pada tanggal 13 Muharam adalah puncak membeludaknya pengunjung peziarah makam
ini. Karena pada hari itulah diadakan haul, atau peringatan tahunan
wafatnya seseorang. Biasanya, mulai dari tanggal 10 Muharam kompleks makam
sudah mulai ramai, para pedagang pun biasanya akan lebih banyak dari
sebelumnya, dan puncaknya pada tanggal 13. Para alim ulama dari berbagai daerah
seringkali ikut hadir dalam acara haul, sebut saja dua ulama besar pekalongan
yakni Maulana Habib Luthfi bin Yahya dan Habib Bagir Alatas. Keduanya kerap
kali menghadiri haul besar ini.
Lalu
sebenarnya siapa sih Syeikh Maulana Maghribi itu? Kenapa sebegitu banyak orang
yang datang berbondong-bondong berziarah dan banyak pula yang meyakini akan
karamah beliau yang amat besar?
Beliau
adalah ulama besar yang pada masa dulu berdakwah di daerah Pekalongan Batang
khususnya. Ada berbagai versi pendapat mengenai identitas detail beliau, maklum
saja, usia makam ini sudah lebih dari ratusan tahun. Selain kisahnya yang
disampaikan hanya dengan cara lisan ke lisan oleh penduduk setempat dan para
sesepuh, tidak adanya bukti fisik yang tertulis seperti buku sejarah mengenai
beliau sebab pada masa dulu konon katanya buku-buku ini banyak yang diboyong
oleh para penjajah ke Belanda. Hal ini menjadi faktor menjadi banyak versinya
dan berbebedanya informasi mendetail mengenai identitas beliau.
Begitulah
para penjajah, mereka banyak merampas buku-buku atau sumber informasi mengenai
sejarah ataupun tokoh-tokoh masa lampau dari kita. Agar apa? Agar timbulnya
perbedaan pendapat diantara kita dan banyaknya versi mengenai suatu informasi,
yang kemudian diharapkan bisa memunculkan percekcokan serta merasa paling benar
dan pada akhirnya kita akan terpecah belah sebab akibat dari perbedaan pendapat
tadi. Hal inilah yang harus kita perhatikan dan kita hindari.
Untungnya,
mengenai perbedaan versi mengenai informasi detail dari Syeikh Maulana Maghribi
ini tidak mengakibatkan hal hal yang tidak diinginkan tadi. Justru sebaliknya,
perbedaan versi informasi dan cerita rakyat dari lisan ke lisan ini menambah
kekayaan wawasan serta khazanah yang ada. Lihat saja, setiap tahunnya
pengunjung haul ini tidaklah berkurang bahkan cenderung bertambah dan bahkan semakin
banyak orang di luar sana yang menjadi tertarik dan makin penasaran dengan
beliau Syekh Maulana Maghribi ini, termasuk penulis sendiri.
Konon
dahulu, ada seorang santri yang datang ke desa ini, ada yang mengatakan santri
itu adalah Sunan Kudus. Beliau melancong ke desa Wonobodro untuk mencari makam
gurunya, guru yang dimaksud yakni Syeikh Maulana Maghribi. Sunan Kudus akhirnya
menaiki sebuah bukit yang bernama Kamulan, dan sholat maghrib yang kemudian
bermunajat di bawah pohon Jlamprang yang ada di sana. Setelah selesai, beliau
melihat sinar terang menjulang ke langit dari tengah-tengah hutan. Benar saja,
setelah dihampiri ternyata sinar tadi berasal dari makam yang selama ini beliau
cari, yaitu makam Syeik Maulana Maghribi.
Ada
yang mengatakan beliau adalah ulama dari Maghrib, atau Maroko. Sesuai dengan namanya
yang dinisbatkan ke Maghrib. Beliau datang ke Indonesia sekitar abad 14 Masehi,
untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam, khususunya daerah Pekalongan
Batang dan sekitarnya. Beliau merupakan sosok yang sangat alim, hari hari
beliau pun dihabiskan untuk bermujahadah memerangi hawa nafsu serta istiqomah
dalam berdakwah maupun beribadah.
Adapun
mengenai identitas detail beliau, Maulana Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan
mengatakan bahwa nama lengkap beliau adalah Syeikh Syarifudin Abdullah bin
Hasan Alwi Al-Quthbi. Ada juga yang mengatakan bahwa Syeikh Maulana Maghirbi
ini adalah Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau yang biasa kita kenal sebagai
Sunan Gresik. Sebagaimana yang sudah dijelaskan tadi, di sini terdapat berbagai
informasi yang berbeda mengenai identitas beliau. Namun sekali lagi, perbedaan
pendapat ini diharapkan ke depannya tidak akan menjadi sebab timbulnya
pertikaian. Sebaliknya, sebaiknya keberagamaan ini dijadikan sebagai kekayaan khazanah
kita.
Karamah
beliau pun sangat banyak, ada yang mengatakan bahwa beliau bisa masuk ke dalam
bumi. Namun yang jelas, karamah beliau yang sangat bisa dilihat dan dirasakan
oleh penduduk setempat khususnya adalah keberkahan yang tercurahkan kepada penduduk
desa Wonobodro ini. Betapa tidak, sebagaimana yang sudah disampaikan di awal,
dengan banyaknya kunjungan dari para peziarah bisa menjadi ladang rezeki bagi
penduduk setempat dengan berjualan makanan dan lain sebagainya.
Disamping
itu, ada beberapa peziarah yang mengaku merasakan karamah langsung dari beliau,
yakni doa dan hajat keinginannya terkabul setelah berziarah. Karena tak sedikit
para peziarah yang datang ke makan dengan niat supaya doa dan keinginanya
terkabul. Tentunya tetap dengan keyakinan bahwa sejatinya Allah-lah yang
mengabulkan doa dan hajat keinginan kita, dan posisi menziarahi makam Syeikh
Maulana Maghribi ini adalah sebagai bentuk tawasul dari doa yang dipanjatkan
supaya dikabulkan hajat dan keinginannya.
Ada
juga yang menceritakan, karamah lain dari makam ini adalah ketika diadakan
acara seperti haul. Lalu kemudian ulama atau kyai yang berceramah itu
mulai menceritakan identitas atau kesejarahan mengenai beliau secara detail.
Maka microfon akan terjadi gangguan atau mati, konon katanya hal ini terjadi
karena beliau tidak berkenan bahwa identitas detailnya diungkap dikhalayak
umum. Hal ini selaras dengan salah satu santri almarhum KH Tohir bin KH
Abdul Fatah yang mengatakan bahwa almarhum kyai Thohir ini selalu
bersikap sangat tawadlu ketika berada dimakam Syeikh, dan kyai pun tidak pernah
menceritakan secara rinci mengenai kesejarahan Syeikh Maulana Maghribi
dikarenakan beliau pernah mendapat isyarat dari Syeikh Maulana Maghribi bahwa beliau
tidak berkenan apabila identitas pribadi beliau diceritakan secara rinci.
Jadi
tak heran lagi, apabila makam Wonobodro ini selalu ramai dikunjungi para
peziarah khususnya pada tanggal 13 Muharam, yaitu puncak haul yang mana para
peziarah bisa mencapai ribuan bahkan puluhan ribu dan datang dari berbagai
daerah. Karena sosok yang dimakamkan di sini memang bukanlah orang yang
sembarang, beliau adalah ulama besar dan waliyullah yang mempunyai
banyak karamah.
~ Aghnin Khulqi
Penulis adalah Alumni Mahad Takhasus Simbang Kulon Pekalongan dan saat ini mengabdi di Pesantren Luhur Sabilussalam Ciputat Timur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar