AISNU Jawa Tengah

Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) Regional Jawa Tengah adalah Pusat Informasi Digital Santri Terbesar di Jawa Tengah. Part of AIS Nusantara

Tokoh

Pondok Pesantren

#ceritahorordipesantren



    Sebuah nama yang sudah sangat familiar di kalangan para pecinta ilmu, seorang ulama’ besar yang terlahir di sebuah desa bernama Jayyan di  pinggiran Spanyol. Beliaulah yang mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuwan karena kecerdasan dan pemikirannya yang jernih.

    Beliau bernama lengkap Asy-Syaikh Jamaluddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Malik at-Thoiy al-Andalusy yang lahir pada tahun 597 H (beberapa ulama berpendapat, beliah lahir di tahun 600 H).
Sejak masa kecilnya, beliau telah memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Sehingga, tak mengherankan jika saat beliau beranjak dewasa rasa hausnya kepada ilmu telah mendorong beliau untuk mengembara ke pelosok negeri guna mendalami sumber-sumber ilmu pengetahuan. Meskipun telah menjadi seirang piatu sejak kecil, beliau tak pernah patah semangat dan selalu mampu mengembalikan semangat akan cintanya kepada ilmu.

    Imam Ibnu Malik mengawali masa belajarnya di tanah kelahirannya Spanyol, dan setelah itu berpindah ke Halbi (Aleppo) untuk mendalami ilmu lughot Arab, madzab, dan ilmu-ilmu lainnya. Beberapa waktu di Aleppo beliau kemudian belajar di Masjidil Haram dan merasa bahwa tempat inilah pengembaraan beliau terakhir. Namun akhirnya beliau pindah ke Syiria dan berdomisili di Damaskus. Selain untuk alasan belajar beliau juga telah menikah dengan seorang gadis Syiria dan dikaruniai dua orang putra yakni Badruddin dan Taqiyyudin.

    Dari sinilah nama Imam Ibnu Malik mulai dikenal. Dengan bertawassul pada nama kakeknya, nama beliau mulai meroket dan mengundang banyak perhatian para ulama’, hingga beliau di jadikan rektor sebuah Universitas ternama di kota Damaskus. Saat itulah beliau berpindah madzhab menjadi Syafi’i yang sebelumnya adalah bermadzhab Maliki.

    Beliau ahli dalam berbagai fan ilmu mulai nahwu, shorof, fiqih, tafsir, hadits, dan lughot arab serta ilmu lainnya. Beliau-pun ahli dalam bidang hafalan sehingga mampu menguasai Ulumul Qur’an sekaligus. Beliau termasuk orang yang zuhud, ini terbukti dari sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa beliau tidak pernah menelaah kitab kecuali dalam keadaan suci dari hadats. Beliau juga dikenal sebagai mujtahid mutlaq yang jenius setelah ulama’ Kufah dan Bashroh.

Guru dan karya-karya beliau
    Dibalik kemasyhuran nama nama Ibnu Malik sudah pastinya ada seorang guru yang tak dapat lepas dari segala apa yang telah belaiu peroleh selama ini. Diantara guru beliau adalah Ibnu Ya’isy, Ibnu Hajib, dan Abu Ali Ash-Shalubin. Karena ketersohorannya, banyak orang yang tertarik berguru kepada beliau seperti Ibnu Ya’isy, Ibnul Hajib, dan Abu Ali Ash-Shalubin. Karena ketersohoran nama beliau, sehingga membuat banyak orang tertarik berguru padanya seperti Ibnu Abil Fath, Ibnul ‘Athor, Abu Abdillah As-Syairafy, termasuk Imam Abu Zakaria bin Syarof an-Nawawi yang lebih dikenal dengan Imam Nawawi.
    Beliau yang tidak hanya ahli dalam bidang nahwu, memang tak henti-hentinya mencurahkan segala pemikiran beliau lewat karya-karya yang hebat. Diantara karya-karya beliau lainnya adalah Tashil al-Fawaid wa Takmil al-Maqoshid, Lamiyah al-Af’al, al-Kafiyah as-Syafiyah, Iddah al-Hafidz wa Umdah al-Lafidh, Sibk al-Mandhum wa Fakk al-Makhtum, Ijaz at-Ta’rif dan masih banyak yang lainnya.

Dibalik sempurnanya 1002
    Salah satu karya beliau yang paling fenomenal ialah kitab Alfiyah, sebuah nadham yang terdiri dari 1002 bait yang beliau persembahkan kepada putranya Badruddin. Alfiyah mengungkap misteri kehidupan dan menyibak tirai filosofi yang menjadi fenomena alam dengan kalam yang mujazi.
    
    Ada sebuah kisah menarik dibalik sempurnanya kitab Alfiyah. Ketika beliau baru sampai pada nadham فا ئقة الففية ابن معطى (Kitab Alfiyah yang aku tulis ini mengungguli kitab Alfiyah karya Ibnu Mu’thi) Beliau menambahkan lagi فا ئقة منها بالف بيت ”mengungguli kitab alfiyah Ibnu Mu’thi dengan seribu bait”. Sampai di kalimat ini semua bait yang sudah dirancang secara matang dan tersusun rapi pudar dari ingatan beliau. Beliau kemudaian bermunajat kepada Allah dan mohon pengampunan. Beliau tertidur dan bermimpi bertemu dengan seseorang yang bertanya mengenai nadham yang belum rampung beliau lanjutkan. Bahkan, orang itu berkata dengan kata menyindir “Mengungguli Alfiyah Ibnu Mu’thi dengan seribu bait. Dan jarang masih hidup bisa mengalahkan seribu orang mati”. Betapa terperangahnya beliau mendengar perkataan tersebut. Ya, orang itu ialah Imam Ibnu Mu’thi. Keesokan harinya Ibnu Malik menghapus bait yang tidak sempurna itu, dan menggantinya dengan bait lain yang isinya memuji akan kehebatan Imam Ibnu Mu’thi yaitu وهو بسبق حا ئز تفضيلا   مستوجب ثنا ئى الجميلا_ Hingga beliau menyelesaikan karangannya berupa Alfiyah 1002 bait.

Foto. KH. Abdullah Habib Faqih (kanan) dan KH. Abdurrahman Faqih (kiri) saat berziarah ke Makam Ibnu Malik

Akhir cerita Sang Ibnu Malik
    Beliau telah hidup pada masa keemasan islam. Telah banyak sejarah yang beliau torehkan dalam kemajuan dan keilmuan islam di dalam sejarah kemajuan dunia. Namun, waktu memang harus berlalu, tiada yang abadi selain Sang Maha Kuasa. Tepatnya pada hari Selasa malam Rabu, 12 Sya’ban 672 H di Damaskus beliau menghela nafas terakhirnya dengan meninggalkan banyak sejarah. Beliaulah sufi dan fuqoha’ nya tanah Damaskus, juga termasuk min jumlatil auliya’ wa ahlul karomah wal istiqomah, namun Allah lebih menyukai jika sang imam lebih dikenal sebagai seorang ahli nahwu daripada di kenal sebagai wali-Nya.

From: Takmilah Langitan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib